Oleh: Dr. Adi Suparto dan Tim Penyelaras
Jelang dua tahun pemerintahan, hasil survei Indonesia Network Election Survey (INES) mencatat angka yang mencolok: tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,3 persen. Tingkat kepercayaan bahkan lebih tinggi, yakni 82,1 persen. Angka ini muncul di tengah dinamika politik yang tidak tenang; termasuk sengketa syarat pencalonan Wakil Presiden yang sedang diperiksa Mahkamah Konstitusi.
*Faktor yang Mengangkat Kepuasan*
Menurut Direktur Eksekutif INES Andri Gunawan, capaian ini didorong oleh beberapa hal yang dirasakan langsung oleh masyarakat:
- Ketegasan dan kecepatan bertindak; 78,2% responden mengapresiasi keberanian, ketegasan, serta kecepatan eksekusi program yang pro-rakyat
- Diplomasi yang membawa keuntungan; 80,3% puas atas strategi luar negeri yang mengutamakan penguatan ekonomi nasional
- Bantuan sosial dan penanganan kemiskinan; 78,7% puas terhadap program kesejahteraan sosial; 68,2% menilai baik penanganan kemiskinan
- Program Makan Bergizi Gratis; 78,2% mendukung keberlanjutannya, dianggap relevan dengan kebutuhan dasar masyarakat
- Pemberantasan korupsi; 78,2% menyatakan puas
- Kondisi politik yang dinilai stabil; 78,3% menilai keadaan politik negara baik
Sektor yang Masih Menjadi Catatan
Namun angka tinggi ini belum merata di segala bidang. Pekerjaan rumah yang paling nyata ada pada:
- Ekonomi dan harga kebutuhan; kepuasan hanya 50,8%. Sebanyak 54,8% responden mengeluhkan tingginya harga kebutuhan pokok
- Lapangan kerja; 50,7% menyatakan tidak puas terhadap penanganan kesulitan mencari pekerjaan
- Ini menjadi pengingat: dukungan kuat belum sepenuhnya terasa di kantong kehidupan masyarakat sehari-hari
*Beban Politik: Seberapa Berat Bayang-Bayang di MK?*
Di saat yang sama, terdapat dinamika yang belum tercermin secara langsung dalam angka survei ini: sengketa syarat pencalonan Wakil Presiden yang sedang disidang di Mahkamah Konstitusi.
Berdasarkan data survei ini, belum terlihat penurunan signifikan kepuasan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan perkara tersebut. Namun beberapa hal perlu dicermati:
- Survei dilakukan 14–20 September 2026, sebelum sidang di MK mencapai puncak pembahasan dan perdebatan publik semakin tajam
- Sebagian masyarakat mungkin memisahkan penilaian terhadap kinerja Presiden dari perkara yang menyangkut Wakil Presiden
- Namun tekanan tetap ada: jika putusan MK kelak berdampak pada posisi Wakil Presiden, hal itu dapat memengaruhi kestabilan pemerintahan dan persepsi publik
- Sebagian pengamat mengingatkan: dukungan yang tinggi saat ini belum tentu bertahan jika ketidakpastian politik berlarut-larut atau menimbulkan perpecahan
*Langkah yang Dapat Menjaga dan Meningkatkan Kepercayaan*
Agar angka kepuasan tidak sekadar angka sesaat, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil:
- Fokus pada yang paling dirasakan masyarakat, percepat penurunan harga kebutuhan pokok dan perluas kesempatan kerja. Inilah bidang yang saat ini paling lemah dan paling mempengaruhi kehidupan sehari-hari
- Jalankan program dengan transparansi, pertahankan kepercayaan pada program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis dengan memastikan penyalurannya tepat sasaran dan bebas dari penyimpangan
- Hadapi dinamika hukum dengan tenang dan terbuka, biarkan proses di MK berjalan sesuai jalur konstitusional tanpa campur tangan kekuasaan. Keadilan yang berjalan lurus justru akan memperkuat kepercayaan publik
- Komunikasi yang merata, pastikan kebijakan yang diambil dipahami masyarakat luas, bukan hanya di lingkungan istana atau kota besar
- Dengarkan kritik, angka 79,3% bukan berarti semua setuju. 17,4% yang menyatakan tidak puas juga berhak didengar; perbaikan lahir dari keberanian melihat kekurangan
*Penutup*
Angka 79,3 persen adalah amanah yang berat. Bukan alasan untuk merasa cukup, melainkan dorongan untuk bekerja lebih sungguh-sungguh. Kekuatan sesungguhnya tidak terletak pada angka survei, melainkan pada kesejahteraan rakyat yang nyata; harga yang terjangkau, pekerjaan yang layak, dan keadilan yang dirasakan tanpa pandang bulu.
Social Header