Breaking News

KEMARAU PANJANG, BBM SINTANG MAHAL LAGI. PERTAMINA DIMINTA PUNYA SKENARIO KHUSUS


SINTANG – http://INDOPERS.CO.ID, Minggu 13 September 2026.
Setiap kemarau panjang datang, cerita yang sama terulang di Kabupaten Sintang: BBM subsidi langka dan harga eceran melambung. 

Tahun ini tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sungai Kapuas dan Melawi dangkal membuat tongkang angkutan BBM dari Pontianak ke Sintang terhenti. Ditambah antrian panjang di Depot Pertamina Pontianak membuat pasokan ke Sintang makin tersendat.

Berdasarkan informasi berbagai sumber oleh tim media, Dampaknya langsung ke masyarakat, Harga Pertalite di tingkat pengecer saat ini. :
1.  Kota Sintang mencapai : Rp 16.000 / liter
2.  Kec. Kayan hilir, Kayan hulu, Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau mencapai : Rp 25.000 / liter

Jauh di atas HET SPBU Rp 10.000/liter.

Kepala Disperindagkop UKM Kabupaten Sintang, Drs. Subendi, M.Si  mengatakan Pemda terus berkoordinasi. Namun untuk menetapkan HET di kios, Pemda masih terkendala payung hukum. Regulasi HET yang ada hanya di SPBU. Untuk kios kami masih pelajari agar tidak cacat hukum,  jelasnya.

Tim Terpadu saat ini gencar sosialisasi agar kios tidak menjual di atas Rp 13.000/liter dan melakukan monitoring harian.

Masyarakat, LSM dan Media mengeluhkan karena  permasalahan seperti ini pasti akan selalu terjadi jika musim kemarau datang. Sungai dangkal, distribusi BBM jalur sungai terhenti, harga naik. Ini sudah berulang.

Karena itu kami mendesak  Pertamina Patra Niaga agar segera menyiapkan skenario khusus distribusi BBM saat kemarau berdasarkan pengalaman tahun ini.

Skenario yang bisa disiapkan:
1.  Tambah armada truk tangki untuk jalur darat Pontianak - Sintang antisipasi saat jalur sungai tidak bisa dilalui
2.  Cadangkan stok BBM lebih besar di Depot Sintang menjelang musim kemarau
3.  Percepat pengisian di Depot Pontianak agar tidak terjadi antrian panjang yang menghambat
4.  Koordinasi dini dengan Pemda dan BMKG begitu ada prediksi kemarau panjang.

Jangan sampai setiap kemarau, masyarakat Sintang kembali jadi korban. Hulunya harus dibenahi agar hilirnya tidak gaduh.

Redaksi : Stephanus Suwarjo 
Handpond  082158106749
© Copyright 2026 - INDO PERS