Breaking News

Antusias Warga Bercocok Tanam Batang Singkong di Pekarangan Rumah Semakin Meriah*


Jakarta,
Aktivitas bercocok tanam batang singkong (stek) di pekarangan rumah semakin marak di kalangan warga, khususnya ibu rumah tangga, menjelang bulan Ramadhan 2026.

 Kegiatan ini menjadi bentuk antusiasme sekaligus kepedulian terhadap ketahanan pangan keluarga dan kelestarian lingkungan.


Salah satu warga mengaku menanam batang singkong untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari selama bulan suci. 

Tanaman singkong dinilai praktis, mudah tumbuh, dan dapat dipanen secara bertahap, baik umbi maupun daunnya yang kerap dijadikan sayuran(22/2/2026).

*Dampak Positif (Ekonomi & Sosial)* :
Ketahanan Pangan
Singkong merupakan sumber karbohidrat andal yang dapat membantu menstabilkan pasokan pangan rumah tangga.


2. Mudah Dibudidayakan
Batang singkong tahan terhadap kekeringan, tidak memerlukan perawatan rumit, dan dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah.

3. Ekonomis
Modal tanam relatif rendah dengan potensi hasil yang menguntungkan, terlebih jika menggunakan teknik tanam double row.

4. Pemanfaatan Lahan
Efektif memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan kering yang belum produktif.


5. Multifungsi
Selain sebagai bahan pangan, singkong juga menjadi bahan baku industri seperti tepung tapioka dan boba, serta dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Daunnya pun bergizi dan sering dikonsumsi sebagai sayuran.

Dampak Negatif & Lingkungan (Jika Dilakukan Secara Intensif)
1. Depleksi Nutrisi Tanah
Tanaman singkong menyerap unsur hara dalam jumlah besar, terutama Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Jika tidak diimbangi pemupukan dan pengelolaan tanah yang baik, kesuburan tanah dapat menurun.

2. Risiko Erosi
Penanaman secara monokultur, terutama di lahan miring, meningkatkan risiko erosi tanah.

3. Penurunan Keanekaragaman Hayati
Sistem tanam satu jenis (monokultur) berpotensi mengurangi keragaman tanaman dan mikroorganisme tanah.

Cara Mengoptimalkan Dampak Positif
Sistem Tanam Rotasi atau Double ROW.

untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keseimbangan unsur hara.

Penanaman Vertikal agar pertumbuhan akar lebih optimal dibandingkan horizontal.
Pengelolaan Lahan Berkelanjutan, menghindari penanaman terus-menerus tanpa rotasi guna menjaga kesehatan tanah.


Pemilihan Stek Sehat, memastikan batang yang digunakan bebas hama dan memiliki tunas baik agar hasil umbi maksimal.


Selain menghasilkan umbi dan daun bernilai gizi tinggi, batang singkong yang tidak digunakan dapat dimanfaatkan sebagai bahan briket, kerajinan, maupun difermentasi untuk pakan ternak. Bahkan, tanaman ini juga dapat difungsikan sebagai pagar hidup untuk melindungi tanaman lain.

Antusiasme warga ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari pekarangan rumah sendiri. 

Dengan pengelolaan yang tepat, budidaya singkong tidak hanya mendukung kebutuhan keluarga, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan secara berkelanjutan.
(H.R)

Type and hit Enter to search

Close