SINTANG, Kalbar. Indopers.co.id - Jumat 4 September 2026. Dampak kemarau berkepanjangan mulai terasa hingga ke harga Bahan Bakar Minyak bersubsidi. Di tingkat pengecer dan kios di Kabupaten Sintang, harga Pertalite saat ini mencapai Rp16.000 per liter, sementara Solar dijual hingga Rp20.000 per liter.
Padahal berdasarkan data resmi Pertamina, harga Pertalite di SPBU masih Rp10.000 per liter dan Bio Solar Rp6.800 per liter di seluruh Indonesia termasuk Kalimantan. Pemerintah juga memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga Desember 2026.
Kami sangat bersyukur di kios/pengecer bisa selalu tersedia Pertalite dan Solar. Namun tolong harga disesuaikan agar tidak memberatkan masyarakat di saat kondisi ekonomi yang kurang stabil oleh kemarau panjang, ujar salah satu warga.
Menanggapi kelangkaan dan antrean BBM, Sales Branch Manager Kalimantan Barat II Fuel PT Pertamina Patra Niaga Muhammad Bisma Abdillah mengikuti Rakor bersama Pemkab Sintang secara daring.
Sementara itu Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun menegaskan Pemerintah telah memberikan kepastian tidak ada kenaikan harga BBM subsidi per 1 April 2026. Pertamina sebagai operator akan selalu patuh terhadap regulator, yaitu Pemerintah.
Pertamina juga mengimbau masyarakat tidak panic buying dan memastikan ketersediaan energi tetap terjaga.
Kepala Depot Pertamina Sintang, Rizky Firmansyah menjelaskan penyebab kelangkaan: kapal tugboat pengangkut BBM terhambat pendangkalan Sungai Kapuas sehingga SPBU terpaksa ambil pasokan dari Pontianak pakai truk tangki. Pertamina sudah mengajukan pembangunan supply point di Sanggau untuk antisipasi kemarau.
Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala langsung memimpin Rakor Pengendalian dan Pengawasan Pendistribusian BBM pada Kamis (03/09/2026).
Kemarau masih panjang, debit air sungai surut, antrian di SPBU juga panjang. Kami perlu mendapatkan penjelasan dari Pertamina kondisi yang sebenarnya mengenai suplai BBM bersubsidi untuk Kabupaten Sintang.
Bupati juga mendesak Pertamina menertibkan penyaluran Pertalite di SPBU, memperketat penggunaan barcode dengan aturan yang jelas, menambah mobil tangki, dan membuka data pasokan harian.
Dangkalnya Sungai Kapuas ini bukan hal baru. Seharusnya pengajuan supply point di Sanggau sudah dilakukan sejak lama. Saya minta Pertamina lebih keras berusaha. Jangan menunggu kemarau lama baru sibuk.
Bupati menyatakan Pemkab siap membantu pemenuhan syarat agar supply point di Sanggau segera terealisasi.
Lonjakan harga ini sangat membebani petani, nelayan, dan pelaku UMKM. Warga meminta APH dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang melakukan pengawasan rutin terhadap penyaluran dan penjualan BBM subsidi di tingkat pengecer agar tidak semakin melambung dan menimbulkan masalah baru.
Redaksi: Stephanus Suwarjo
Indopers.co.id Kalimantan Barat


Social Footer