_Kampanye, Tokoh, dan Seruan Menjaga Warisan Para Pendiri agar Tetap Tegak Berdiri Sendiri_
Sumber berita & fakta: Semua liputan dan media arus utama 30 Agustus 2026
Oleh: Dr. Adi Suparto dan Tim Penyelaras
JOMBANG, SUASANA YANG TERASA DARI AWAL HINGGA SEKARANG
Muktamar Nahdlatul Ulama ke‑35 dibuka secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto, dihadiri ribuan peserta dari seluruh penjuru negeri, dan diiringi seruan agar NU tetap menjadi kekuatan penyeimbang, pelindung kerukunan, serta penjaga jalan tengah bangsa. Presiden juga menyampaikan penghormatan dan dukungan, sekaligus mengingatkan: peran besar ini harus tetap didasari kemandirian batin dan kemaslahatan semata.
Namun di balik pembukaan yang khidmat dan harapan yang tinggi itu, sejak jauh hari sebelum sidang dimulai; terutama saat pencalonan mulai terbuka, terasa tarik‑ulur yang makin nyata: kunjungan ke pesantren‑pesantren, pertemuan‑pertemuan yang tak semata urusan dakwah, kedatangan tokoh‑tokoh negara, dukungan yang terlihat jelas beriringan dengan janji atau kedekatan kekuasaan. Siapa yang datang, siapa yang mendukung, dan siapa yang dibiayai, semua kini menjadi pertanyaan yang tak bisa lagi dianggap sekadar isu tak berdasar.
DUA GARIS PERTIKAIAN YANG SAMA AKARNYA
Dua hal yang kita bahas hari ini, larangan rangkap jabatan serta perselisihan masa jeda satu tahun, bukan sekadar soal pasal atau tanggal hitungan. Itu hanyalah bentuk yang terlihat dari persoalan yang jauh lebih dalam: siapa sebenarnya yang berhak memimpin NU? Dan atas dukungan siapa mereka berdiri?
Satu pihak berpendapat: yang sudah berpengalaman, dekat dengan kekuasaan atau pemerintahan, akan lebih mudah menyuarakan pendapat dan mengubah keadaan nyata. Pihak lain mengingatkan: kalau kedekatan itu berubah jadi ketergantungan, kalau “lebih mudah didengar” berarti “harus ikut ke mana pun diajak”, maka suara ulama lama‑lama tak lagi milik umat, melainkan milik siapa yang memegang tali kekuasaan itu.
Dan di atas segalanya, yang paling pelan namun paling berbahaya: politik uang. Siapa yang mampu membiayai perjalanan, penginapan, kedatangan ribuan peserta dari pulau ke pulau? Siapa yang bisa menyiapkan dukungan di setiap cabang jauh‑hari sebelum sidang dibuka? Kalau seseorang bisa berjalan ke mana‑mana dan berbicara di mana‑mana berkat sumbangan besar, kelak ketika sudah terpilih, ke siapa ia akan lebih dulu berterima kasih? Kepada umat yang ia pimpin… atau kepada orang yang membayar jalannya?
SERUAN MENJAGA MARWAH DAN KEMURNIAN PARA PENDIRI
Marwah NU; kemuliaan, harga‑diri, dan kemandirian yang dibangun para pendirinya, bukanlah warisan yang tak akan pernah pudar apa pun yang terjadi. Ia tegak berdiri karena para pendiri dulu memilih berdiri sendiri: tidak memihak kekuasaan mana pun, tidak menggantungkan hidup pada sumbangan yang meminta imbalan, tidak menjual suara demi jabatan atau kemudahan sesaat.
Kini warisan itu sedang diuji. Bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh hal‑hal yang terlihat seperti bantuan, dukungan, kedekatan, dan kemudahan. Kita harus berani berkata jujur: Marwah ini bisa jatuh tersungkur, bukan karena serangan, melainkan karena terlalu banyak dipeluk oleh kekuasaan dan uang.
Maka ini bukan urusan siapa yang menang atau kalah pemilihan. Ini urusan apakah setelah pemilihan selesai; apapun hasilnya, NU tetaplah milik umat biasa, milik santri, milik orang yang berjuang dengan keringat dan doa. Atau perlahan‑lahan berubah jadi milik siapa yang punya akses, punya dana besar, dan punya teman di kursi kekuasaan.
PESAN YANG INGIN KITA SAMPAIKAN BERSAMA:
_Para pendiri NU mendirikan ini bukan supaya kita mencari jabatan, bukan supaya kita jadi perantara kekayaan, dan bukan supaya suara kita dibeli atau diringankan demi kedekatan. Mereka mendirikannya supaya ada satu rumah besar tempat kebenaran tetap terucap, meski tak disukai penguasa, meski tak menguntungkan pedagang kekuasaan._
_Maka mari kita jaga bersama. Jangan biarkan kemuliaan yang dibangun ketulusan turun‑temurun, jatuh tersungkur gegara uang, gegara jabatan, gegara lupa siapa yang sebenarnya kita layani. Kita bukan milik kekuasaan. Kita bukan milik sumbangan besar. Kita berdiri atas nama kebenaran dan atas doa rakyat biasa, dan hanya itu yang akan membuat kita tetap tegak selamanya._


Social Footer