Breaking News

Bukan Vonis Profesi, Tapi Teguran Bagi Jiwa yang Masih Menjajah*


 
Riuh di media sosial meletup usai Presiden Prabowo Subianto melontarkan istilah "Londo Ireng" dalam pidatonya. Potongan video yang beredar masif di TikTok dan pelantar digital lain memantik tafsir yang beragam, sebagian besar meleset dari inti makna. Banyak warganet menangkap seolah seluruh elemen pengkritik, termasuk insan pers, sedang dituding sebagai musuh negara. Di tengah kabut kesalahpahaman ini, kewajiban kita adalah meluruskan benang kusut: membedakan kritik atas perilaku dengan vonis atas profesi, serta menempatkan peran jurnalisme pada porosnya yang lurus.
 
Makna di Balik Sebutan Lama
 
Secara harfiah, istilah lama dalam khazanah budaya itu berarti "Belanda Hitam". Namun makna kiasnya jauh lebih dalam: ia menunjuk pada mentalitas penjajah yang bersemayam dalam diri anak bangsa sendiri.
 
Ciri utamanya adalah sikap arogan: merasa paling benar, memandang rendah sesama warga, gemar mengatur tanpa memberi teladan, serta menjadikan orang lain sekadar alat bagi kepentingan sendiri. Ini adalah watak yang menempatkan kenyamanan dan keuntungan pribadi di atas segalanya, persis seperti perilaku penguasa kolonial dulu, namun kini berpindah rupa ke dalam jiwa sejumlah warga kita.
 
Jelaslah: ini bukan label untuk satu pekerjaan atau golongan tertentu. Ia bisa bersarang di mana saja: di kalangan pengusaha, aktivis, maupun, harus dikatakan tegas, di tubuh birokrasi negara itu sendiri.
 
Birokrasi dan Bayang-Bayang Mentalitas Lama
 
Kita tidak bisa menutup mata: mentalitas "Londo Ireng" kerap kali justru menyusup ke relung kekuasaan. Ada birokrat yang bersikap seolah penguasa feodal: alih-alih melayani, mereka minta dilayani; alih-alih memberi kemudahan, mereka mempersulit urusan demi pungutan liar atau gengsi jabatan; alih-alih menjadi pelindung rakyat, mereka menjadi tembok penghalang yang dingin dan tak tersentuh.
 
Bagi mereka, aturan dibuat untuk ditekan pada orang lain, sementara mereka sendiri melenggang bebas di luar batas itu. Inilah wujud nyata watak yang dikritik: berkuasa di atas hukum, merasa istimewa, dan melupakan janji pengabdian. Maka, jika istilah ini dipakai sebagai cermin, birokrasi pun wajib bercermin paling dalam: apakah pelayanan yang diberikan sudah merdeka dari semangat kolonialisme gaya baru?
 
Kritik yang Membangun versus Adu Domba
 
Kembali ke konteks pidato Presiden. Kekesalan yang tersirat bukanlah pada aktivitas mengawasi atau mengritik, sebab dalam demokrasi, kritik adalah napas kehidupan. Yang disasar adalah gaya kritik yang destruktif: yang gemar menyebar curiga tanpa data, menggoreng isu demi sensasi, memelihara kebencian, dan mengadu domba sesama anak bangsa.
 
Perbedaan antara watak "Londo Ireng" dan warga negara yang bertanggung jawab terletak pada niat dan cara menyampaikan. Yang satu menebar racun perpecahan; yang lain menyuarakan kebenaran demi perbaikan.
 
Jurnalisme Sejati: Menjaga Independensi dan Netralitas, Menegakkan Kebenaran
 
Di titik inilah marwah jurnalisme diuji. Sebagai penjaga gawang kebenaran, wartawan berdiri di atas pijakan netralitas dan fakta terverifikasi. Tugas kita bukan memihak pada nafsu menghakimi, melainkan menghadirkan keterangan yang terang benderang bagi publik.
 
Jurnalisme sejati tidak membiarkan dirinya terjebak menjadi alat provokasi. Ia tidak menciptakan kegaduhan, melainkan mengurai benang kusut persoalan. Jika ada oknum yang memakai nama pers untuk menebar fitnah, maka ia sedang mengkhianati sumpah profesinya, dan itulah yang sesungguhnya sedang dikritisi.
 
Maka, bagi insan pers yang bekerja sesuai etika: ujaran itu bukanlah serangan, melainkan *teguran untuk tetap menjaga kemurnian jalur.* Teruslah menjadi cahaya yang menerangi, bukan api yang membakar persaudaraan.
 
Penutup: Cermin Bagi Kita Semua
 
Pada akhirnya, sebutan "Londo Ireng" adalah cermin besar bagi seluruh elemen bangsa, tanpa kecuali. Ia menegur siapa saja yang masih memelihara sifat kolonial: baik mereka yang bersuara sumbang tanpa dasar, maupun mereka yang memegang jabatan namun lupa diri.
 
Kita semua sedang dipanggil untuk kembali ke niat awal: bekerja dan berkarya demi kebaikan bersama. Bagi wartawan, jawaban terbaik adalah terus menghadirkan karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan. Di situlah kita membuktikan: kita adalah pengawal kebenaran, bukan pembawa petaka.
 
Adi Suparto
Wartawan Investigasi & Analis Kebijakan Publik

Type and hit Enter to search

Close