Surabaya – Founder Yayasan Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, memberikan klarifikasi terkait polemik bantuan sosial senilai Rp2 miliar yang sebelumnya direncanakan untuk Griya Lansia Malang.
Klarifikasi tersebut disampaikan kepada awak media,
Ali menegaskan bahwa pihak BIP tidak pernah membatalkan komitmen bantuan yang telah direncanakan sejak program BIP Tour Jatim beberapa bulan lalu. Menurutnya, proses penyaluran bantuan justru bermula dari permintaan pihak Griya Lansia yang menilai terdapat ketidaksesuaian dengan standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan.
Selama ini tidak ada satu pun komunikasi dari kami untuk membatalkan bantuan Namun, dari pihak Griya Lansia sendiri yang meminta bantuan tersebut dibatalkan karena menganggap ada ketidaksesuaian SOP," ujar Ali.
Ali menjelaskan, salah satu poin yang menjadi perbedaan pemahaman berkaitan dengan penyematan nama mendiang orang tuanya pada fasilitas atau bangunan yang didanai sepenuhnya oleh BIP. Ia menyebut hal tersebut merupakan bagian dari filosofi yayasan sebagai bentuk bakti kepada orang tua.
BANI sendiri merupakan singkatan dari Bakti Anak Nurani Ibu. Penyematan nama orang tua dilakukan sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada mereka," jelasnya.
Lebih lanjut, Ali menerangkan bahwa bantuan Rp2 miliar tersebut sejak awal dirancang untuk disalurkan secara bertahap dan tidak seluruhnya berbentuk dana tunai. Sebagian bantuan, menurutnya, direncanakan dalam bentuk pembangunan fisik maupun pengadaan barang sesuai kebutuhan program.
Meski terjadi perbedaan pandangan, Ali mengajak seluruh relawan dan masyarakat untuk tidak memperkeruh suasana. Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan tetap mengedepankan semangat kemanusiaan.
Saya tetap menghormati Bapak Arief Camra dan berharap komunikasi serta silaturahmi tetap terjalin dengan baik demi kepentingan para lansia dan anak-anak yatim yang dibina," tuturnya.
Sebelumnya, polemik mencuat setelah pihak Griya Lansia Malang menyampaikan pernyataan di media sosial mengenai bantuan yang disebut tidak terealisasi sesuai harapan. Menanggapi hal tersebut, Ali Zainal Abidin menegaskan bahwa perbedaan yang terjadi merupakan bentuk miskomunikasi dan berharap seluruh pihak dapat menyelesaikannya secara kekeluargaan.
( Mery mahendy )


Social Footer