SUMENEP — Sebagai bagian dari ikhtiar merawat ruang belajar yang inklusif dan progresif, Mahasantri Ma'had Aly Al-Karimiyah menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul "Pesta Babi". Agenda ini dirancang sebagai wadah refleksi kolektif sekaligus penguatan kesadaran kritis Mahasantri terhadap berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan yang tengah melanda Indonesia.
Dalam sambutannya, Presiden Mahasantri Ma'had Aly Al-Karimiyah, Ahmad Romdan menegaskan bahwa keterlibatan mahasantri dalam membedah karya sinema ini merupakan bukti nyata bahwa kaum santri tidak pernah menutup mata terhadap realitas ciptaan di luar dinding pesantren. Ia melihat film ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah medium dakwah dan refleksi yang sangat relevan di era modern.
Di era kontemporer ini, dakwah tidak lagi hanya terbatas pada mimbar-mimbar masjid. Karya seni, termasuk film, adalah instrumen yang sangat tajam untuk memotret realitas. Film Pesta Babi menjadi cermin yang memantulkan penyakit-penyakit sosial seperti keserakahan, dan kerakusan duniawi—sifat-sifat buruk yang sering kali dianalogikan dengan metafora tersebut," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia juga mengajak seluruh elemen mahasantri untuk terus mengambil peran aktif dalam dinamika kebangsaan. "Melalui kegiatan ini, kita ingin menunjukkan bahwa mahasantri melek dan peduli terhadap isu-isu di luar sana. Kita bukan kaum yang termarginalkan dari dinamika sosial, tetapi bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengkaji, dan memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan bangsa.
Sementara itu, Wakil Presiden Mahasantri Ma'had Aly Al-Karimiyah, Moh. Hayat, yang bertindak sebagai pemantik pertama, mengupas tuntas bagaimana film ini merekam potret buram realitas yang terjadi di tanah Papua. Menurutnya, karya visual ini harus mampu melahirkan kepedulian yang sifatnya universal dan kontekstual.
Bukan hanya menonton, tetapi kita harus sadar dan mulai melihat bagaimana kondisi lingkungan di sekitar kita. Kepedulian terhadap Papua harus menjadi pintu masuk untuk lebih peduli terhadap ruang hidup yang kita tempati hari ini," jelas Moh. Hayat di hadapan para peserta.
Hadir sebagai pemateri utama, Presiden Mahasiswa UNIBA Madura 2025, M. Rofiqul Mukhlisin, ikut memberikan penegasan moral mengenai pentingnya keberanian bersikap di tengah krisis sosial. Ia mengingatkan kaum akademisi agar tidak terjebak dalam sikap apatis.
Ketika kita memilih untuk diam, sejatinya itu juga sebuah pilihan. Karena itu, penting bagi setiap mahasiswa dan mahasantri untuk memiliki keberpihakan yang tegas terhadap nilai-nilai keadilan," tutur Rofiqul.
Ia juga menambahkan bahwa sengkarut eksploitasi hutan di Papua bukanlah fenomena tunggal yang lahir baru-baru ini, melainkan persoalan struktural menahun yang telah berlangsung melintasi berbagai periode pemerintahan. Meski berbagai gerakan penolakan di masa lalu kerap menemui jalan buntu dan kegagalan, Rofiqul mengingatkan bahwa hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti menyuarakan kebenaran.
Acara yang berlangsung interaktif ini diwarnai dengan diskusi dan debat gagasan yang dinamis. Seluruh peserta yang hadir sepakat bahwa mahasiswa dan mahasantri memiliki peran strategis sebagai agen intelektual. Di bawah bingkai nilai-nilai pesantren, mereka berkomitmen untuk tetap peka, adaptif, dan konsisten dalam mengawal isu-isu kemanusiaan serta kelestarian lingkungan demi kemaslahatan umat.


Social Footer