Indopers.co.id
Tanean lanjeng merupakan sebuah kompleks hunian tradisional khas Madura yang bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan cerminan dari tatanan sosial yang telah berlangsung selama berabad-abad. Namun kini, warisan leluhur itu perlahan-lahan mulai kehilangan penghuninya.
Di dalam tradisi madura tanean lanjeng biasanya di huni oleh satu keluarga besar yang susunan rumahnya saling berhadap hadapan memanjang dan di tengahnya terdapat halaman yang cukup luas. Tatanan rumah ini bukan hanya keindahan arsitektur saja tetapi memiliki simbol keterikatan keluarga, kebersamaan, keharmonisan, dan gaya hidup yang unik.
Bukan hanya sebagai tempat tinggal, tanean lanjeng juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan nilai kebudayaan yang ada di masyarakat Madura. Nilai-nilai sosial yang tercermin di dalamnya seperti kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada orangtua dan perempuan.
Seorang sosiolog Jerman bernama Ferdinand Tönnies pernah berpendapat tentang kehidupan sosial manusia, yang dimana terdapat dua jenis masyarakat di dunia. Yang pertama, masyarakat yang saling terikat oleh perasaan, tradisi, dan kedekatan tempat di mana orang saling kenal bukan karena kepentingan, melainkan karena memang hidup bersama berbagi duka dan suka dan saling jaga tanpa perlu alasan. Yang kedua, masyarakat modern yang hubungannya lebih mirip transaksi formal, kalkulatif, dan individualis. Tönnies sudah memperingatkan sejak lama bahwa yang pertama itu akan tergerus oleh yang kedua.
Jika dilihat dari perkembangan zaman tampaknya Pendapat dari Tönnies memang benar bahwa saat ini banyak masyarakat yang lebih memilih gaya hidup modern dan meninggalkan taneyan lanjeng.Hal ini dapat di kaitkan dengan Teori Modernisasi Alex Inkeles yang dimana Alex memunculkan teori ini dengan menggambarkan bagaimana industrialisasi dan urbanisasi secara sistematis mengikis nilai-nilai komunal dan menggantinya dengan orientasi yang lebih individualis.
Keberadaan tanean lanjeng kini menghadapi tantangan besar di tengah perkembangan zaman yang lebih modern. Arus modernisasi dan urbanisasi membawa generasi muda khususnya di Madura, semakin banyak yang merantau untuk pendidikan dan pekerjaan yang sering kali memilih untuk tinggal bahkan menetap di tempat perantauan meninggalkan pemukiman keluarga. Gaya hidup modern dan individualis juga mulai masuk dan berkembang pada generasi muda, generasi muda sekarang lebih tertarik memiliki rumah sendiri yang terpisah mandiri, privat, dan bebas dari aturan adat yang dianggap mengekang. Sehingga pola pemukiman yang bergantung pada kebersamaan keluarga menjadi berkurang relevansinya. Tren-tren rumah minimalis modern yang bermunculan juga dapat mengurangi minat generasi muda terhadap desain rumah tradisional. Perubahan zaman inilah secara tidak langsung mengikis pola pemukiman tradisional taneyan lanjeng, meskipun nilainya tetap tertanam di kehidupan masyarakat Madura. William F. Ogburn menamai fenomena ini cultural lag keadaan di mana perubahan material berjalan jauh lebih cepat ketimbang perubahan nilai dan budaya.
Perubahan sosial memang tidak bisa dibendung, Tanean lanjeng bukan sekadar soal bentuk rumah atau tata letak bangunan. Ia adalah cara pandang bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, keluarga adalah pondasi, dan bahwa saling jaga adalah kewajiban, bukan pilihan. Di tengah berbagai tantangan tersebut, upaya untuk melestarikan tanean lanjhang perlu dilakukan. melestarikan nilai-nilai sosial dan budaya tidak harus dikemas dalam bentuk aslinya yang penting gotong royong, hormat kepada yang lebih tua, kepedulian terhadap sesama, dan rasa tanggung jawab masih tetep terjaga dan di implementasikan dalam kehidupan sehari hari. Karena selama masih ada orang yang ingat dan mau meneruskan, sebuah budaya tidak pernah benar-benar hilang-ia hanya sedang bertransformasi dan menyesuaikan diri dengan zaman sambil tetap membawa akar yang sama. Dan mungkin itulah yang paling indah dan warisan akan tetap hidup, tidak kaku dan tumbuh. Nilai-nilai ini sesungguhnya tidak bertentangan dengan modernitas justru menjadi penyeimbang di tengah masyarakat yang kian individualistis.
Oleh : Mahrizha Syahadatina (Mahasiswa FISIP Universitas Wiraraja)


Social Footer