Beberapa tahun yang telah lalu pada pilkada 2024 Kabupaten Sumenep, ketua aliansi kiai Sumenep yakni KH. Imam Haromain mendeklarasikan dukungan pada pasangan Fauzi-Imam dengan salah satu harapan bahwa wakil bupati dapat memberikan perspektif spiritual dalam kebijakan yang diambil. Tapi hari ini dengan adanya gejolak sosial yang terjadi Mr Ball berdiri dengan megah tampa rasa bersalah, minuman keras bukan lagi hal yang disembunyikan secara bisik-bisik, DJ party laki-laki perempuan tidak ada batasnya dan tempat hiburan malam semakin berdiri seolah tampa dosa. Hal itu tentunya tidak apa-apa mungkin jika di kota-kota besar akan tetapi kita hidup dilingkungan yang katanya menjunjung tinggi moralitas, daerah yang dikenal banyak pondok pesantren yakni 394 pesantren di Kabupaten Sumenep dan mayoritas penduduk agamis, tentunya terasa aneh ketika keadaan sosial tersebut diatas telah terjadi. Kerusakan sosial tidak pernah diketahui kapan datang, Sumenep sebagai daerah religius sehingga berubah menjadi bebas bahkan amit-amit menjadi sekuler maka miris. Menjadi pertanyaan besar kemana aliansi yang mendukung kiai nomer 2 itu, apakah gelar kiai hanya menjadi aksesoris politik pilkada saja, apakah nilai moral dan agamis hanya digunakan pada masa pilkada saja. Tentunya banyak harapan bahwa aliansi tersebut bertanggung jawab atas apa yang mereka dukung dengan dalih harapannya dan apa yang mereka dukung betul-betul mengeluarkan kebijakan dengan perspektif spiritualis. Kiai dengan menjunjung kebenaran, kemaslahatan umat dan menjaga moral umat.
(Ach. Fadhail)


Social Footer