Indopers.co.id — Adat Nyadhar merupakan upacara yang dilakukan masyarakat petani garam, khususnya masyarakat Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep. Upacara adat Nyadhar ini dilakukan secara turun-temurun dari para leluhur yang berjasa bagi masyarakat Desa Pinggir Papas hingga sekarang. Salah satu tokoh leluhur yang berjasa adalah Syekh Anggasuto. Beliau merupakan seorang pangeran yang dahulu berjalan di pesisir pantai, dan jejak telapak kakinya terisi oleh air laut. Beberapa hari kemudian, Syekh Anggasuto kembali berjalan di pesisir laut hingga menemukan jejak telapak kaki yang berisi air dan tumbuh serpihan putih yang disebut garam.
Syekh Anggasuto disebut sebagai orang pertama yang membuat garam laut. Garam laut tersebut kemudian menghasilkan manfaat yang besar dan membantu perekonomian masyarakat Desa Pinggir Papas. Dari rezeki yang diperoleh, Syekh Anggasuto bersyukur dan melaksanakan tradisi adat Nyadhar yang berlokasi di Kebundadap Barat. Kemudian, adik dari Syekh Anggasuto, yaitu Kabasa, selaku pekerja petani garam, juga melaksanakan adat Nyadhar yang disebut Nyadhar kedua dan berlokasi di Kebundadap Barat. Adat Nyadhar yang ketiga dilakukan di Desa Pinggir Papas.
Masyarakat Desa Pinggir Papas melaksanakan tradisi adat Nyadhar secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Syekh Anggasuto selaku leluhur yang sangat berjasa serta membantu mengatasi masalah perekonomian masyarakat desa. Sebelum panen garam, masyarakat Desa Pinggir Papas melakukan ziarah ke makam leluhur seperti Syekh Anggasuto, Syekh Kabasa, Syekh Dukun, Syekh Bangsa, dan lain-lain agar diberi keselamatan dan keberkahan. Selain itu, makam leluhur juga dijadikan tempat turun tanah bagi anak balita. Makam leluhur tersebut biasanya disebut “asta” oleh masyarakat luar.
Tradisi adat Nyadhar dilakukan selama dua hari satu malam di Kebundadap Barat. Sebelum masyarakat melakukan doa dan masuk ke makam leluhur yang disebut asta, tetua (bengatoa) Desa Pinggir Papas berjalan mengelilingi asta sambil membawa bunga dan kemenyan. Setelah itu, tetua melakukan doa terlebih dahulu, kemudian disusul oleh masyarakat. Setelah melakukan doa, biasanya masyarakat Desa Pinggir Papas mengambil bedak panggung yang telah disediakan oleh penjaga asta.
Sebagian masyarakat Desa Pinggir Papas menginap (mondok) di rumah warga Desa Saronggi untuk mempersiapkan nasi panjhang yang diperlukan dalam upacara tradisi adat Nyadhar. Ada juga masyarakat yang mempersiapkan nasi panjhang dari rumah mereka di Desa Pinggir Papas dan membawanya sendiri ke lokasi upacara adat Nyadhar di Kebundadap Barat. Sebagian masyarakat yang mondok di Kebundadap Barat memiliki pola pikir agar tidak kesulitan membawa nasi panjhang dari Desa Pinggir Papas ke Kebundadap Barat yang jaraknya cukup jauh. Selain itu, perkumpulan masyarakat Pinggir Papas di rumah warga Kebundadap Barat juga dapat mempererat silaturahmi antar masyarakat.
Max Weber mengemukakan 4 tindakan social manusia yaitu: (1) Tindakan Rasional Instrumental, (2) Tindakan berorientasi Nilai, (3) Tindakan Afektif, dan (4) Tindakan Tradisional. Keempat tindakan social ini dilakukan oleh masyarakat desa di acara upacara tradisi adat nyadhar.
Pertama, tindakan rasional instrumental dari tindakan social ini masyarakat menginap (mondok) dirumah masyarakat desa kubundadap barat. Tindakan tersebut dilakukan secara rasional karena masyarakat mempertimbangkan efisiensi waktu dan tenaga agar pelaksanaan tradisi berjalan lancar. Kedua, tindakan berorientasi nilai seperti saat masyarakat melakukan ziarah ke makam Syekh Anggasuto dan leluhur lainnya untuk memperoleh keberkahan dan keselamatan. Masyarakat percaya bahwa ziarah memiliki nilai spiritual dan religius sehingga tetap dilakukan walaupun tidak selalu memberikan keuntungan langsung.
Ketiga, tindakan afektif yaitu masyarakat melakukan tradisi Nyadhar sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Syekh Anggasuto. Tindakan ini didasari oleh rasa terima kasih, hormat, dan emosional masyarakat terhadap leluhur yang dianggap berjasa bagi kehidupan mereka. Keempat, tindakan tradisional masyarakat desa pinggir papas tetap melaksanakan tradisi turun temurun dari syekh anggasuto untuk rasa syukur dengan adanya tambak garam. Tradisi adat nyadhartetap dilaksanakan karena sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Desa Pinggir Papas sejak zaman dahulu.
Tradisi adat Nyadhar merupakan warisan budaya masyarakat Desa Pinggir Papas yang masih terus dilestarikan hingga saat ini sebagai bentuk rasa syukur kepada leluhur, khususnyaSyekh Anggasuto, yang dianggap berjasa dalam perkembangan tambak garam dan perekonomian masyarakat. Tradisi ini tidak hanya memiliki makna spiritual dan religius, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar masyarakat melalui kegiatan bersama selama pelaksanaan adat berlangsung. Berdasarkan teori tindakan sosial Max Weber,tradisi Nyadhar mengandung empat bentuk tindakan sosial, yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan berorientasi nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional. Keempat tindakan tersebut terlihat dalam aktivitas masyarakat seperti mondok untuk persiapan acara, ziarah makam leluhur, ungkapan rasa syukur, serta pelestarian adat secara turun-temurun. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Nyadhar tidak hanya menjadi kebiasaan budaya, tetapi juga memiliki makna sosial yang penting bagi kehidupan masyarakat Desa Pinggir Papas.
(Oleh : Halimatus Saniyah - Universitas Wiraraja)


Social Footer