Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional, kita sering disuguhi kata-kata besar tentang perjuangan, keadilan, dan kesejahteraan. Namun di Sumenep, banyak buruh masih hidup dalam kenyataan yang sunyi, bekerja keras setiap hari, tetapi belum benar-benar sampai pada kehidupan yang layak.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Maret 2025, angka kemiskinan di Sumenep berada di 17,02 persen, atau sekitar 188 ribu jiwa. Angka ini memang menurun dari tahun sebelumnya, tetapi tetap menyisakan kenyataan bahwa hampir satu dari enam masyarakat Sumenep masih hidup dalam kemiskinan. Ini bukan sekadar angka, ini adalah wajah-wajah yang setiap hari berjuang untuk bertahan.
Moh Ali Banun Kalim ( Ketua PKPT IPNU UPI Sumenep ) menyampaikan bahwa kondisi ini tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai takdir. Ada realitas yang perlu diakui bersama: bahwa kerja keras buruh belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan yang mereka terima.
“Kita tidak sedang mencari siapa yang paling salah. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa banyak buruh sudah bekerja sekuat tenaga, namun belum benar-benar merasakan hidup yang layak. Ketika angka kemiskinan masih setinggi ini, kita perlu jujur bahwa apakah sistem yang ada sudah cukup berpihak?” ungkapnya.
Ia menambahkan, buruh, terutama di sektor informal, masih menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka bekerja tanpa jaminan, tanpa kepastian, dan sering kali tanpa perlindungan yang memadai. Sementara itu, kebijakan yang ada kerap terasa jauh dari realitas kehidupan sehari-hari mereka.
Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting untuk lebih hadir secara nyata, bukan hanya melalui aturan di atas kertas, tetapi melalui kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat kecil. Pendekatan yang lebih manusiawi, lebih mendengar, dan lebih peka terhadap kondisi buruh menjadi hal yang mendesak.
“Hari Buruh seharusnya bukan hanya tentang peringatan, tapi tentang keberanian untuk melihat kenyataan. Tentang bagaimana kita memastikan bahwa kerja keras seseorang tidak berakhir pada kelelahan tanpa harapan,” lanjutnya.
Perlu sekali adanya refleksi bersama. Karena di balik setiap persentase kemiskinan, ada manusia yang sedang berjuang, ada keluarga yang menggantungkan harapan, dan ada masa depan yang tidak boleh terus diabaikan.
Sumenep, 1 Mei 2026
Oleh : Moh Ali Banun Kalim ( Ketua PKPT IPNU UPI Sumenep )


Social Footer