PACITAN — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Pacitan mendesak pemerintah daerah untuk merekomendasikan penghentian sementara pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pacitan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) . Desakan ini muncul setelah hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa di Kecamatan Tegalombo resmi terbit dan menunjukkan adanya kontaminasi bakteri pada sampel makanan dan air.
Ketua GmnI bung Febri Firdiansyah menilai, penghentian sementara program MBG bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah penting untuk melakukan refleksi dan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program yang belakangan menuai berbagai persoalan di lapangan.
“Kami meminta program MBG di Pacitan dihentikan sementara. Ini bukan bentuk penolakan, tetapi langkah rasional untuk evaluasi total agar kejadian serupa tidak terus berulang,” Ucap ketua GmnI Bung febri firdiansyah
Ia juga menyampaikan kasus dugaan keracunan yang berdampak pada ratusan siswa menjadi puncak dari serangkaian persoalan yang selama ini terjadi dalam pelaksanaan MBG di Pacitan. Sebelumnya, program tersebut juga kerap disorot karena ketidaklayakan menu makanan, baik dari sisi kualitas hingga standar harga yang dipertanyakan.
Temuan hasil laboratorium yang mengindikasikan adanya bakteri pada makanan semakin memperkuat dugaan bahwa pengelolaan program MBG masih jauh dari standar keamanan pangan yang semestinya, terlebih program ini menyasar siswa sekolah sebagai kelompok rentan.
“Dari menu yang tidak layak hingga kasus keracunan, ini menunjukkan ada masalah serius dalam sistem. Jangan sampai program yang seharusnya menyehatkan justru membahayakan,” lanjutnya.
GMNI menegaskan, jika tidak ada langkah tegas dari pemerintah, maka dikhawatirkan permasalahan serupa akan kembali terjadi dan semakin memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap program MBG di Pacitan.


Social Footer