Merak,
Sorotan dari awak media mengungkap keresahan masyarakat terkait kondisi fasilitas umum di area toilet Terminal Bus Merak yang dinilai tidak terawat dan diabaikan oleh pihak pengelola.
Sejumlah penumpang bus dan pemudik mengeluhkan ketidaknyamanan saat menggunakan fasilitas tersebut.
Dari hasil pantauan di lapangan, ditemukan wastafel pembuangan air kecil dalam kondisi rusak dan tidak berfungsi.
Bahkan, bagian tertentu terlihat ditutupi lembaran kardus serta mengalami penyumbatan air tanpa adanya perbaikan.
Kondisi ini diduga dibiarkan tanpa penanganan oleh pengelola terminal maupun pihak PT ASDP Indonesia Ferry.
Pembiaran tersebut dinilai berdampak pada kenyamanan serta kesehatan masyarakat pengguna fasilitas umum.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan
Kerusakan fasilitas toilet berpotensi menimbulkan berbagai risiko serius, di antaranya:
Penyebaran Penyakit: Toilet yang kotor dan mampet menjadi sarang bakteri seperti Salmonella yang dapat menyebabkan diare, kolera, hepatitis A, dan disentri.
Infeksi: Risiko infeksi saluran kemih dan penyakit kulit meningkat akibat paparan limbah.
Gangguan Pernapasan: Gas seperti amonia dan hidrogen sulfida dari limbah menimbulkan bau menyengat dan iritasi saluran napas.
Selain itu, terdapat pula dampak lingkungan dan infrastruktur:
Pencemaran Air Tanah: Kebocoran septic tank dapat mencemari sumber air bersih.
Kerusakan Bangunan: Kebocoran yang dibiarkan berpotensi merusak struktur lantai dan dinding.
Pemborosan Air: Kerusakan pipa atau katup menyebabkan kebocoran terus-menerus.
Dugaan Pungutan Liar
Di lokasi yang sama, juga ditemukan dugaan praktik pungutan liar (pungli) oleh oknum penjaga toilet dengan tarif yang tidak seragam kepada pengguna.
Hingga saat ini, belum terlihat adanya tindakan perbaikan maupun penertiban dari pihak terkait, meskipun keluhan dari masyarakat terus bermunculan.
Berdasarkan dokumentasi yang dihimpun pada Minggu siang (29/2/2026), kondisi tersebut diduga telah berlangsung dalam waktu lama, bahkan diperkirakan mencapai puluhan tahun tanpa perbaikan signifikan.
Kondisi ini menimbulkan harapan dari masyarakat agar pihak pengelola segera melakukan pembenahan demi kenyamanan dan kesehatan publik.
(H.R)


Social Footer