Jakarta–Merak, Sejumlah penumpang bus jurusan Kalideres–Merak mengeluhkan pelayanan yang dinilai tidak memadai. Hal ini terungkap dari hasil pantauan awak media di dalam armada Bus Bima Suci yang beroperasi pada rute tersebut.
Berdasarkan keterangan penumpang, beberapa permasalahan yang dirasakan antara lain kondisi pendingin udara (AC) yang tidak berfungsi optimal, waktu tunggu yang cukup lama akibat kebiasaan “ngetem” di pangkalan maupun di pinggir jalan, dengan durasi berkisar antara 25 hingga 45 menit.
Kondisi ini dinilai mengurangi kenyamanan selama perjalanan.
Selain itu, muncul keluhan terkait dugaan kenaikan tarif yang tidak disertai pemberitahuan resmi kepada penumpang.
Dua orang penumpang perempuan yangyang enggan disebutkan identitasnya mengaku keberatan dengan tarif yang mereka anggap tidak sesuai dengan harga normal.
Mereka menyampaikan bahwa tarif sebelumnya untuk rute Kalideres–Merak berkisar Rp40.000, sedangkan untuk tujuan Cilegon sekitar Rp35.000. Namun, dalam perjalanan terakhir, mereka mendapati adanya kenaikan tarif tanpa sosialisasi resmi dari pihak pengelola.
Penumpang juga mengungkapkan bahwa saat dimintai keterangan, pihak kernet tidak dapat memberikan penjelasan yang jelas terkait dasar kenaikan tarif tersebut.
Hal ini memunculkan dugaan adanya praktik yang tidak sesuai prosedur.
Dampak Kenaikan Tarif Tanpa Sosialisasi
Kenaikan tarif tanpa pemberitahuan resmi berpotensi menimbulkan berbagai dampak, antara lain:
Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap operator transportasi
Beban ekonomi bagi penumpang, khususnya masyarakat
berpenghasilan rendah
Potensi pelanggaran prosedur yang dapat menjadi temuan lembaga pengawas seperti Ombudsman
Keresahan publik, terutama pada momen penting seperti arus mudik
Minim Pengawasan dan Indikasi Pelanggaran
Selain persoalan tarif, penumpang juga menyoroti tidak adanya tiket atau karcis resmi sebagai bukti pembayaran.
Kondisi ini dinilai berpotensi merugikan penumpang serta membuka peluang penyalahgunaan.
Awak media juga menemukan bahwa sebagian awak bus tidak mengenakan seragam resmi maupun identitas yang jelas.
Di sisi lain, keberadaan oknum calo di sejumlah titik turut memperburuk situasi, karena diduga hanya berfokus pada pengumpulan penumpang dan uang tanpa memperhatikan kenyamanan layanan Sorotan terhadap Otoritas Terkait
Hingga saat ini, belum terlihat adanya tindakan tegas dari pihak pengelola terminal maupun instansi terkait atas keluhan yang disampaikan penumpang.
Kondisi ini memunculkan kritik terhadap lemahnya pengawasan terhadap operasional angkutan umum di jalur tersebut.
Pengamat transportasi menilai, diperlukan langkah tegas dari pihak berwenang untuk memastikan setiap operator bus mematuhi standar pelayanan, termasuk transparansi tarif dan kelayakan armada.
Harapan Perbaikan
Penumpang berharap adanya:
Transparansi tarif yang jelas dan resmi
Peningkatan kualitas pelayanan armada
Penertiban calo dan praktik pungutan tidak resmi
Pengawasan lebih ketat dari pemerintah dan pengelola terminal Dengan adanya perhatian serius dari pihak terkait, diharapkan pelayanan transportasi umum dapat kembali memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.
(H.R)


Social Footer