Sejumlah perangkat desa di berbagai daerah dilaporkan mengundurkan diri dari jabatannya untuk beralih menjadi pegawai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fenomena ini mencuat dalam beberapa waktu terakhir dan memicu beragam respons dari pemerintah desa maupun masyarakat.
Di beberapa wilayah, pengunduran diri tersebut dilakukan hampir bersamaan oleh lebih dari satu perangkat desa. Mereka memilih mengikuti rekrutmen pegawai MBG yang dinilai menawarkan kepastian penghasilan, jam kerja yang lebih jelas, serta peluang kerja jangka panjang.
Kami melihat ada ketertarikan besar dari perangkat desa terhadap program MBG. Sebagian menilai sistem kerja dan kesejahteraannya lebih menjanjikan,” ujar seorang kepala desa yang enggan disebutkan .
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Dalam pelaksanaannya, MBG membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, mulai dari administrasi, distribusi, hingga pengelolaan dapur.
Namun, mundurnya perangkat desa secara beramai-ramai menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Kekosongan jabatan dinilai dapat mengganggu pelayanan publik dan administrasi desa jika tidak segera diisi.
“Kami harus bergerak cepat melakukan pengisian ,” kata seorang pejabat kecamatan setempat.
fenomena ini sebagai sinyal perlunya evaluasi kesejahteraan dan jenjang karier perangkat desa. Menurutnya, jika kondisi kerja di desa tidak kompetitif, perpindahan ke sektor lain akan terus terjadi.
Hingga kini, pemerintah daerah disebut tengah memantau perkembangan tersebut sekaligus menyiapkan langkah antisipasi agar roda pemerintahan desa tetap berjalan optimal di tengah tingginya minat masyarakat menjadi pegawai MBG.


Social Footer